A Meeting With NLP Practitioner

15 07 2010

Ketemu Pak Arif puas deh, namanya juga beliau praktisi NLP. Kalau tahun lalu Pak Kresno PL’79 udah bantuin gua mau kemana, kali ini gua dapet info tambahan. Beberapa yang kenal gua baru-baru ini tahu kalau seekor pinguin menggemaskan yang satu ini pengen banget jadi psikolog di militer/polisi. Lha, masih ambigu nih? Iya.. gua lagi compare mana yang lebih gokil. Susah lho, karena sama-sama gokil. Gokilnya harus pas sama inner voice gua pastinya biar gak salah kaprah besok hari.

Saat meeting (cieh..gaya) di kantor beliau. Setelah asyik diskusi tentang rencana gua, diperlihatkanlah kertas-kertas berisi wejangan yang nempel dengan indahnya pas di belakang kepala ogut. Pak Arif mungkin kaget kalau gua memberi sebuah kasus dari sebuah wacana yang lagi kita diskusikan. Gua pikri ini ngobrol singkat, ternyata jadi diskusi yang menyenangkan. Kata beliau itu belum semua ditempel, kalau tidak salah ada duapuluh jumlahnya. Sementara tadi gua baru lihat masih belasan. Kayaknya dicopot buat bahan seminar Pak Arif. Beruntung bagi gua, karena tiga dari belasan kalimat wejangan udah ada aplikasinya. Apa sajakah itu? Inilah contohnya..

“There’s no failure, there’s only feedback”

Pengalaman gua pernah gak naik kelas di PL adalah yang paling relevan. Nyokap bisa dibilang udah seumur hidup regard me as failed person. Sayangnya itu salah besar. Ternyata setelah naik ke kelas XI gua malah masuk tiga besar berturut-turut sampai akhirnya bisa deathstrike lulus sebagai siswa terbaik peringkat pertama dari program ilmu sosial. Anyway, yang gak tau prestasi terakhir gua ini adalah keluarga. Kalau teman-teman dan guru sudah tahu.

Alasan gua gak ngasih tau.. ya.. emang sebenernya salah sih kalau gak ngasih tahu. Apa daya, stereotipe yang sangat kencang masih berdiri tegak. Kalau menurut Pak Arif, ya.. hormati sajalah.

See.. there’s no failure, there’s only feedback

“Everything is Connected”

Gua inget gimana idealisme seekor pinguin saat berkeras masuk IPS, idealisme itu muncul karena reaksi kenikmatan duniawi saat mempelajari ilmu sosial ketimbang ilmu alam. Ternyata, hasilnya oke banget-saking senangnya bisa ngebawa gua tembus peringkat lima besar. Hee.. pas lulus dari program Ilmu Sosial, tinggal gua sama Baginda bilang begini : kenape kita gak belajar IPA juga ya?? Gua jadi penasaran nih setelah puas dengan IPS..

Semua hal berhubungan-gua dapat dari Pak Kresno saat pertama kali ikut program Inner Voice. Hal itu kemudian gua buktikan dengan teori kausalitas yang sudah ada. Contoh paling gampang adalah metabolisme tubuh. Dari hal inilah mulai timbul ke-kepo-an saya dengan dunia ilmu alam. Dimantapkan lagi dengan saat Pak Arif mendukung keputusan masuk fakultas Psikologi yang notabene berhubungan dengan segala hal. Sebenarnya.. bukan masalah di psikologinya, melainkan adalah-selama lu masih ngurusin manusia-pasti nyaris semua hal yang tekuni akan berhubungan satu sama lain.

Then.. Everything is Connected.

“I believe it then i can see it”

Kalau ini.. adalah visualisasi-bahasa elitnya mimpi, berkhayal. Bilang deh : sedeng lu yo.. jaman digital masih aja ngayal.. Bodo.. ngayal gak bakal dikekang jaman. Masih kurang puas ‘gan dengan contoh konkritnya? Walt Disney, Steve Jobs-berani ngayal bisa bikin Disneyland, berani ngayal bisa bikin sebuah keluarga gadget yang stylish, user-friendly plus bikin orang menjerit : OH MY GOD! THAT’S ANOTHER APEL GROAK’S GADGET.. I used to mention apple’s product as apel groak.. hahaha!

Proses visualisasi ini sebenarnya udah dimulai sejak gua SD. Jaman SD, masih naif, masih dibayang-bayangi dunia mimpi-kendati harus dihajar dengan dogma “don’t too much daydreaming”.. Visualisasi pertama gua adalah apa yang sudah dicapai hari ini : SD di Tarki V, SMP di Tarki IV, SMA di PL.. Kesampean? Sampe banget.. bahkan dapet lebih dari yang gua impikan. I used to happy if I had joined PL High School. Itu doang.. Untuk ukuran diri gua saat itu-impian kayak gitu udah setaraf dengan impian hidup sehari bersama Eva Mendez.

Tambah umur, tambah banyak metode.. sekali-kali ngelamun jorok😀. Metode paling anyar pertama kali gua pelajari lewat The Secret, awalnya susah..tapi setelah ketemu banyak orang di SMA sampai hari ini ketemu Pak Arif gak sadar gua cerita begini.

“Saya sampai iseng nyari foto tentara yang lagi misi.. ada.. dapet.. terus kok rasanya kurang maksimal. Hee.. tiba-tiba ada lagu liriknya ‘this is call to arms, gather soldiers-time to go to wars, this is a battle songs brothers and sisters.. time to go to war!!’. Tiba-tiba aja proses visualisasi bener-bener kerasa. Akhirnya lagu saya masukin Vegas terus saya jadiin ringtone..”

Pak Arif kaget kayaknya, karena gua ngeluarin hp dan memperdengarkan lagu Thirty Seconds To Mars berjudul Vox Populi/A Call To Arms (mana sih yang bener?) yang memang liriknya seperti itu. Kemudian secara bijak beliau nelaah ulang tentang salah satu bab di The Secret. Ceritanya.. nyambung di blogpost edisi lainnya ya..

So..when I believe it, I can see it.

Sadis.. mantapp!

Thank you Mr. Arif Samil PL’80 buat meetingnya!

Oh buat kalian yang mau ketemu dia kontak gua aja. Kalau bisa sih kelompok ya. Karena kebetulan gua satu almamater sama doi, jadi konsultasi gratisss.. hehehe!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: